Close Menu
Data MasjidData Masjid

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    PGRI dan Urgensi Pembelajaran yang Lebih Relevan

    April 8, 2026

    PGRI dalam Menghadapi Perubahan Ekspektasi Siswa

    April 8, 2026

    Ekosistem Guru dan Peran Organisasi Profesi

    February 27, 2026
    Data MasjidData Masjid
    • Home
    • MASJID BERSEJARAH INDONESIA
    • MASJID TERINDAH INDONESIA
    • MASJID DUNIA
    • Web JIC
    Data MasjidData Masjid
    • Home
    • MASJID BERSEJARAH INDONESIA
    • MASJID TERINDAH INDONESIA
    • MASJID DUNIA
    • Web JIC
    Home»MASJID BERSEJARAH INDONESIA»Masjid Agung Payaman
    MASJID BERSEJARAH INDONESIA

    Masjid Agung Payaman

    Dunia MasjidBy Dunia MasjidJuly 26, 2025Updated:March 24, 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Kalau ada masjid di suatu daerah yang ratusan jamaahnya 24 jam nonstop selalu siap menunggu imam, barangkali hanya ada di Masjid Agung Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

    Masjid Agung yang berlokasi di pinggiran Jalan Raya Secang, Magelang ini tidak memiliki nama khusus. Sehingga sampai kini pun, meski masjid ini cukup terkenal di Jawa Tengah, kita tidak menemukan papan nama di depan bangunannya seperti halnya masjid-masjid atau bangunan yang lain.

    “Entah sejak kapan dan siapa yang pertama kali menyebut masjid ini sebagai Masjid Agung. Hanya saja yang kami tahu dari orang-orang tua dulu, di daerah Magelang ini dulunya hanya ada dua kiai yang cukup kesohor, yaitu Kiai Haji Syirod dan Kiai Haji Dahlar. Kiai Syirod adalah orang yang memangku (mengurus) masjid ini. Sedangkan, Kiai Dahlar adalah kakek Mbah Mad Watucongol Magelang yang terkenal itu,” jelas H. Mudris (53 tahun), takmir Masjid Agung Payaman.

    Sejak kapan masjid ini didirikan, tidak ada catatan yang dapat dijadikan acuan faktual. “Hanya, menurut cerita turun-temurun, masjid ini pertama kali dipugar oleh Kiai Ibrahim. Sehingga dialah yang di¬anggap sebagai pendiri masjid ini,” tambahnya.

    Di zaman sekarang ini, yang namanya pengajian umum di masjid, musholah atau bahkan di lapangan yang disampaikan dalam bentuk – :amah, sudah memasyarakat sampai ke pelosok dusun. Tetapi konon, : a ia masa penjajahan, yang namanya pengajian umum adalah kegiatan i r.gka dan tentu prestasi tersendiri. Konon, di masjid inilah pada iahunl930-an pengajian umum atau yang disebut majelis taklim per- ;jia kali diselenggarakan.

    “Hal itu dapat terselenggara berkat hubungan yang erat antara Kiai – :rod dan Kanjeng Bupati Magelang saat itu, R. Danuningrat,” ungkap iciah seorang sesepuh masyarakat setempat.

    Malah dahulu ketika usai Clash E, penyerahan tentara sekutu dari : aerah Kedu ke wilayah Semarang dilakukan di halaman masjid ini. Dan, di masa revolusi fisik Laskar Hizbullah juga selalu singgah di ~3sjid ini untuk meminta doa restu kepada Kiai Syirod. “Entah benar ? tau tidak, bambu runcing yang dibuat oleh Mbah Kiai Subki Parakan ang sangat terkenal itu, konon asal mulanya dari sini,” tambah H. Mudris lagi.

    Seperti dituturkan sesepuh desa, pada masa Clash H, masjid ini sering menjadi tempat transit Laskar Hizbullah. Konon, Panglima Besar Jenderal Soedirman juga pernah transit di masjid ini ketika akan merebut
    kota Ambarawa. “Masjid ini juga sering didatangi pejabat negara untuk bermujahadah atau bertukar pikiran mengenai masalah-masalah ke¬negaraan. Yang pernah ke sini antara lain K.H. Idham Chalid, Mr. Ali Sastroamijoyo, dan Mr. Wongsonegoro. Itu yang saya ingat/’ ujar H. Mudris lagi.

    Berjamaah 40 Hari

    Yang paling istimewa dari keberadaan masjid ini adalah jamaahnya yang tidak pernah sepi selama 24 jam. Sebab, setiap saat sekitar seratus jemaah yang berasal dari berbagai daerah terutama Jawa Tengah, umumnya kaum bapak dan ibu yang usianya 50-an tahun ke atas, sengaja tinggal di sekitar masjid untuk mengikuti shalat berjamaah selama 40 hari. Untuk menampung mereka, masyarakat setempat membuatkan semacam asrama berlantai dua. Di sebelah halaman masjid untuk kaum ibu, dan di bawah lantai ruang masjid untuk kaum bapak. Sedangkan, sisanya yang tidak tertampung, tinggal menumpang di rumah-rumah penduduk.

    Bahkan, menurut warga setempat, setelah nazar mereka untuk Shalat berjamaah selama 40 hari di Masjid Agung Payaman telah selesai, ada beberapa orang yang tidak ikut pulang dan memilih tinggal menetap sampai meninggal dunia di Kampung Kauman Payaman itu.

    “Tetapi, mulai beberapa tahun belakangan ini kami tertibkan secara administrasi. Jadi, kalau ada yang ingin mondok sementara di sini harus ada yang mengantar dan bertanggung jawab, termasuk melapor kepada Ketua RT. Sehingga, kalau yang bersangkutan sakit, kami dapat segera menghubungi keluarganya,” jelas Ketua RT setempat.

    Sambil menunggu waktu shalat tiba, mereka yang bernazar atau berkeinginan berjamaah selama 40 hari itu mengaji Al-Qur’an di ruangan masjid. Mereka hanya shalat dan mengaji saja. Sedangkan, untuk kebutuhan sehari-hari, ada yang membeli di warung-warung makan sekitar masjid, ada piala yang dikirimi keluarganya, dan ada pula yang membayar uang makan bulanan kepada warga setempat seperti lazimnya anak kos.

    Untuk hari-hari biasa, mereka yang tinggal sementara di masjid itu ada sekitar seratus orang. Tetapi, kalau bulan Ramadhan bisa mencapai 300-an orang.

    Ruang utama Masjid Agung Payaman berukuran 10 x 10 m. Masjid ini juga memiliki serambi kanan dan kiri, sedangkan serambi depan yang diberi kubah pada bangunannya itu berukuran 14 x 10 m.

    Masjid Agung Payaman pertama kali direnovasi oleh Bupati Magelang, R. Danuningrat, pada tahun 1930-an dan yang kedua direnovasi oleh masyarakat tahun 1974. Beberapa tahun yang lalu diperbaiki lagi di sana-sini. Seperti halnya masjid-masjid bersejarah lainnya, masjid ini juga sarat dengan berbagai kegiatan syiar islam.

    DATA MASJID AGUNG PAYAMAN

    • NAMA RESMI

      Masjid Agung Payaman

    • TANGGAL DIRESMIKAN

       

    • LOKASI

       

    • LUAS BANGUNAN

      m2

    • LUAS KESELURUHAN

      m2

    • DAYA TAMPUNG JAMAAH

      orang

    • ARSITEK

       

    • SUMBER

      Masjid-masjid bersejarah di Indonesia

    kampungbet

    sbobet

    kampungbet

    kampungbet

    kampungbet

    kampungbet

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleMasjid Agung Tegal
    Next Article Masjid Agung Darul Muttaqin
    Dunia Masjid
    • Website

    Related Posts

    Masjid Raya Al Mashun Medan

    August 30, 2025

    Masjid Raya Rengat

    August 30, 2025

    Masjid Azizi

    August 30, 2025

    Masjid Sulaimaniyah

    August 30, 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Terbaru

    PGRI dan Urgensi Pembelajaran yang Lebih Relevan

    By admin4466April 8, 20260

    PGRI dan Urgensi Pembelajaran yang Lebih Relevan: Menghubungkan Teori dengan Realitas Ketidakterhubungan antara materi sekolah…

    PGRI dalam Menghadapi Perubahan Ekspektasi Siswa

    April 8, 2026

    Ekosistem Guru dan Peran Organisasi Profesi

    February 27, 2026

    Institusionalisasi Profesi Guru dalam Konteks Nasional

    February 27, 2026

    Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman

    August 30, 2025
    © 2026 Dunia Masjid. Dikembangkan oleh Divisi Informasi dan Komunikasi Jakarta Islamic Centre.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.